Pacaran, Online, dan Nikotin

Assalammualaikum, Hari ini saya mencoba untuk mempromosikan blog teman saya, utk para pembaca sekalian. Semoga bermanfaat InsyaAllah

1. Pacaran

Pacaran itu ternyata membuat kecanduan loh. gak percaya? saya sudah sharing dengan berbagai orang dan jawabannya sama. Setelah mereka pertama kali pacaran, seterusnya mereka pun ingin pacaran <= kecanduan.

sample story:

Sebut saja Luri. Sebelumnya ia belum pernah pacaran. Namun sewaktu dia menginjak kaki di SMP dia mulai melihat teman-temannya berpacaran dan terpengaruh sampai akhirnya ketika ia kelas 9, ia pun mulai terkena virus merah jambu dan berpacaran. Namun namanya kisah cinta anak SMP, semua hanya berlangsung sesaat. Luri dan Pacarnya pun putus diwaktu seumur jagung. Setelah itu tidak tahu mengapa Luri merasa aneh bila ia tidak pacaran. Padahal, jauh waktu sebelum ia merasakan rasanya berpacaran, ia fine-fine saja menjalani status lajangnya. Tapi entah mengapa setelah berpacaran, dia merasa aneh bila tidak berpacaran. Makannya dia sempat menyesal sewaktu ia pertama kali menggeluti dunia berpacaran ini. Itulah kisah Luri dan kecanduannya terhadap "pacaran"

2. Online

Sudah merupakan suatu kebiasaan online berbagai jenis jejaring sosial bagi para remaja. Bahkan tidak hanya remaja saja. Orang tua, ataupun anak-anak sekalipun sering online diberbagai jejaring sosial. Ini pun merupakan suatu rasa candu bagi para onliner. Apabila mereka tidak online satu hari saja, pasti mereka merasa ada kekurangan dalam hidupnya. ga percaya(?) oke saya sudah sharing juga dengan para onliner.

sample story:

Kali ini sebut saja saya (˘⌣˘). Sebenarnya saya awalnya bukan seorang onliner. Namun dimula karena banyaknya tugas sekolah yang diberi guru kepada saya, dan kaka-kaka saya, untuk mempermudahnya ayah saya pun mulai memasang internet di rumah dengan tujuan agar kami (saya dan kaka-kaka saya) tidak harus keluyuran ke warnet. Apalagi apabila sudah mendapatkan tugas mendadak dan harus tengah malam menyelesaikannya di warnet.
Sekitar saya kelas 8, saya mulai tergiur dengan jejaring sosial. mulai dari facebook, twitter, koprol, dan yang lainnya. Sebelum saya memasang internet dirumah, saya memang sudah memiliki jejaring sosial tersebut. Akan tetapi saya belum menjadi onliner. yaaa inilah beberapa alasan saya mengapa bisa menjadi onliner =>

– karena internet tarifnya perbulan dan konstan, jadi saya merasa untuk apa dipasang apabila tidak digunakan secara maksimal
– karena saya lebih suka diam dirumah, jadi saya sering online untuk tetap bisa berkomunikasi dengan teman-teman walau ada di rumah
– timbul rasa kepuasan tersendiri apabila saya online
– dan faktor lain yang tidak perlu dipublikasikan =)

Pernah suatu ketika, saya dan keluarga saya sedang berlibur ke rumah nenek di Cilacap. Tepatnya di desa Kedungreja yang cukup terpencil dan tidak memungkinkan untuk bisa online. Sekitar 1 minggu lebih saya disana dan saya tidak online sama sekali :O (suatu hal yang cukup mengagumkan bagi saya). Selama seminggu tidak online itu kaya….. ngebelah atmosfer berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, menuju rasi bintang paliinggg maniisss #korbaniklan <= tentunya bukan itu perasaan saya. Yaaa saya seperti merasakan tidak sepenuhnya ada kesenangan dari diri saya. Entah mengapa hidup saya menjadi lebih datar apabila tidak online *sedikitlebay*. Online itu seperti menjadi kebutuhan sehari-hari bagi saya. Dan saya akui saya merasa kecanduan dan sampai sekarang pun saya harus menjadi onliner setiap hari. Itulah sedikit kisah candu saya dan "online". <=Itu pula jawaban para onliner lainnya.

3.Nikotin

*Kali ini tidak perlu terlalu banyak menjelaskan lagi karena saya tau blog visitors sudah tau apa itu nikotin. Yaitu suatu zat pada rokok yang menyebabkan kecanduan bagi perokoker (perokok aktif)*

***Faktanya pacaran maupun online memang membuat seseorang kecanduan seperti halnya mengonsumsi nikotin. Oke blog visitors sudah tidak bingung dengan judul blog saya ini dan sudah tidak berfikir lagi saya ngawur kan? ^_^ . Jadi begitulah hubungan antara pacaran, online, dan nikotin. itu semua berakibat candu***

http://binartifauziahfitriani.blogspot.com/

Iklan

Arti Seorang Sahabat


Lelah sekali rasanya hari ini. Saat ku buka Handphoneku, senang seklai rasanya melihat inboxku yang terisi penuh sms yang belum ku baca. Lalu ku baca satu persatu, sedih sekali rasanya saat ku tau, tak ada satupun sms ataupun telfon dari dia, kekasihku. Sudah satu bulan hubunganku mengambang dengannya, aku terus berusaha, tapi dia tak mau mengerti. Dia tetap keras kepala. Setiap hari aku menangis melihat tingkahnya yang tidak mau pedulikan perasaanku.
Suatu saat, aku bertemu dengan teman lamaku. Dennis namanya. Ia sudah banyak berubah. Ia satu tahun lebih tua dariku, maka kupanggil dia ‘kaka’ dan dia memanggilku ‘adik’. Kita menjalin hubungan pertemanan lagi dan kami sangat akrab sekali. Kita selalu saling membantu, saat aku bersedih karena masalah kekasihku yang acuh, dia selalu menemaniku. Begitu pula sebaliknya, sehingga kami merasa senang dan nyaman. Ia juga cerita tentang kekasihnya, turut bahagia aku mendengarnya karena hubungan mereka baik-baik saja.
Suatu saat aku bercerita kepada Dennis.
“Ka, Dia selalu mengacuhkanku. Bahkan sekalinya berbicara, dia berkata kasar padaku!” ucapku.
“De, kaka cuma mau ngasih tau aja, lebih baik cowok kaya gitu ditinggalkan saja. Nanti dede yang bakal cape sendiri.” Jawab Denis.
“Tapi ka, aku sayang dia.”Lanjut ceritaku.
“Untuk apa kamu sayang sama seseorang yang ga sayang sama kamu?” Ucap Dennis.
Setelah percakapan itu, benar juga apa yang dikatakan Dennis, buat apa aku sakit hati terus? untuk dia yang tidak pernah memperhatikanku? lebih baik aku tinggalkan saja. Tidak lama setelah itu, aku putus dengan kekasihku dan aku berusaha untuk melupakannya jauh-jauh. Sekarang aku hanya ingin mencari sahabat, dan kupikir Dennislah sahabat yang terbaik karena dia selalu ada saat aku kesulitan. Tapi kedekatanku dengan Dennis, menimbulkan kecemburuan Winda, kekasih Dennis. Mereka selalu bertengkar, tapi Dennis selalu mengalah dan aku selalu dibawa-bawa dalam setiap pertengkaran mereka.
Suatu ketika, dia tiba-tiba menghubungiku dan berkata,
“De, mulai sekarang kila lost contact dulu ya?” kata Dennis.
“Memangnya kenapa ka?” aku bingung mendengar perkataan Dennis yang tiba-tiba berbicara aneh.
“Tadi Winda marah-marah sama kakak. Udah mulai sekarang kita lost contact saja. Maaf ya de?” Kata Dennis.
“Ya.” Aku hanya membalas singkat perkataannya karena aku sangat kesal, dan kecewa sekali padanya. Ternyata dia rela meninggalkan sahabatnya hanya untuk mempertahankan hubungannya dengan kekasihnya. Lalu dia mendatangiku lagi,
“De, sekali lagi maaf ya?” ujar Dennis.
“Ya, terserah kakak saja.” ucapku sambil berkaca-kaca.
“Sudahlah jangan sedih, akan ada banyak pengganti kakak yang mau nemenin ade.”
“Ngomong itu mudah ka, tapi tetap saja aku sedih dan kecewa sama kakak !!.”
“Terus gimana lagi dong de?”
“Ya sudahlah jalani saja hidup kakak sama Winda!!”
“Maaf ya de, cepet dapet pacar yang baik ya de, biar bisa ngelindungin ade. Good bye, see you later.” Ucapan terakhir Dennis yang masih terngiang di telingaku.
“Ya sudahlah sana jangan kebanyakan minta maaf, katanya mau lost contact?!”. ucapku.
Baru aku menyadari rasanya ditinggal sahabat demi orang lain, lebih menyakitkan daripada putus dengan pacar sendiri. Kini aku lebih mengerti kedudukan sahabat labih jauh berguna dari pada kekasih. Sahabt bisa jadi kekasih, tapi kekasih tidak bisa jadi sahabat.

Dikutip dari cerpen ‘Seorang Remaja’