Ghibah

Setan berkeliling mengitari manusia untuk menghembuskan pada jiwanya bisikan yang membolehkan melakukan ghibah dalam rangka melenyapkan kemungkaran dan mencegah kemaksiatan. Jika benar tujuannya untuk melenyapkan kemungkaran, maka ringanlah persoalan, tetapi sejak awal ia melakukan ghibah bukan untuk itu. Ia mengghibah setiap orang yang ide atau pandangannya berbeda sehingga seolah-olah ia memakan daging saudaranya yang sudah mati karena ghibah atau gunjingannya itu. Allah berfirman dalam Al-Qur’an,
“Dan janganlah sebagian dari kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (Al-Hujurat: 12)

Aisyah pernah berkomentar tentang Shafiyah di hadapan Rasulullah, “Cukuplah pendeknya badan Shafiyah untukmu.” Maka Rasulullah menegurnya, “Hai Aisyah, engkau telah mengucapkan kata-kata yang jika dituang ke lautan, niscaya lautan itu akan keruh” (Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir. 5/31)
Ternyata hanya beberapa butir kata berisi gunjingan dapat mengeruhkan air laut. Bagaimana dengan gunjingan yang dilakukan oleh sekelompok juru dakwah atau sekelompok orang mukmin tentang seseorang melalui rangkaian kalimat bukan cuma dua atau tiga butir kata-kata, hanya karena pendapatnya berbeda atau mungkin hal lain?

Hasan Al-Bashri berkata, “Ghibah ada tiga macam; Ghibah ,Ifk dan buhtan. Ghibah ialah engkau menyebut-nyebut sesuatu yang terdapat pada saudaramu. Ifk ialah menceritakan yang sampai ke telingamu tentang dia. Sedang buhtan yaitu menceritakan suatu aib atau cacat seseorang yang sebenarnya tidak dimiliki olehnya.” (Tafsir Al-Qurthubi 16/335)
Rasulullah telah memberikan definisi ghibah dengan jelas sehingga tidak mengandung kemungkinan penafsiran lain. Definisi ini kita dapati dalam hadist riwayat Muslim, “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?,” tanya Rasul. Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Lalu beliau menjelaskan, “Yaitu engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia senangi.” “Jika yang disebut itu benar terdapat padanya, bagaimana?” tanya para sahabat. Rasulullah berkata, “Itulah ghibah. Jika apa yang kamu sebut-sebut itu tidak ia miliki, berarti kami berbuat buhtan (dusta).”

Dalam menafsiri ucapan Rasulullah pada hadist ini, “engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia senangi,” Imam An-Nawawi mengungkapkan, “Baik kamu melakukannya dengan kata kata, dengan tulisan, dengan isyarat mata, maupun isyarat tangan atau kepala. Kesimpulannya, Setiap sesuatu yang kamu kerjakan yang dengannya orang lain paham tentang aib atau kekurangan seseorang yang kamu maksud adalah ghibah yang diharamkan” (Al-Adzkar, hlm 200.)

Ada ghibah jenis lain yang tidak disadari oleh banyak orang, yaitu ghibah yang dinamakan oleh Imam An-Nawawi sebagai “ghibatul mutafaqqihin wal-muta’abbidin” (ghibahnya orang-orang yang mendalami fiqih/ilmu agama dan tekun ibadah). An-Nawawi menuturkan, “Mereka mengghibah orang lain dengan bahasa sindiran yang dapat diapahami seperti dipahaminya ghibah yang menggunakan bahasa terus terang”
Contoh, ketika sebagian dari mereka ditanya mengenai seseorang, “Bagaimana si anu?” ia menjawab dengan bahasa sindiran seperti ini, “Semog Allah menjadikan kita orang baik, mudah mudahan Allah mengampuni kita” (artinya lebih baik dari si anu) atau ia menjawab, “Mudah-mudahan Allah memperbaiki dia …….,” “Kami memuji Allah yang telah memelihara kami sehingga tidak terlibat dalam kezhalimannya….,” “Kita berlindung dari kejahatan”. Atau ia menjawab dengan kata-kata, “Mudah-mudahan Allah memaafkan kita dari keburukan akhlak,” atau kata-kata lain yang sejenis yang mengisyaratkan bahwa orang yang ditanyakan tersebut adalah cacat atau memiliki keburukan.

Semua golongan ghibah atau perbuatan menggunjing yang diharamkan oleh Islam sesuai dengan tuntutan kandungan hadist Muslim di atas dan hadist lainnya tentang ghibah, wallahu A’lam
Jika Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa orang yang mengghibah sama dengan memakan daging jenazah yang dighibahi, maka orang yang mendengarkan ghibahnya ikut makan daging jenazah tersebut bersama dia, pelaku ghibah. Oleh karena itu, seorang muslim dilarang mendengarkan ghibah apalagi kalau turut mengghibah.

Seorang muslim ketika mendengar saudaranya mengghibah atau menggunjing, ia harus mengingatkannya atau mengalihkan pembicaraannya. Sehubungan dengan ini, sebagai tertanda perhatian Rasulullah kepada masalah ini, beliau berpesan,
“Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya, Allah akan mencegahnya dari neraka pada Hari Kiamat.”

Juga nasehatnya,
“Siapapun yang membela kehormatan saudaranya, maka perbuatannya tersebut menjadi tamengnya dari neraka”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: