Arti Seorang Sahabat


Lelah sekali rasanya hari ini. Saat ku buka Handphoneku, senang seklai rasanya melihat inboxku yang terisi penuh sms yang belum ku baca. Lalu ku baca satu persatu, sedih sekali rasanya saat ku tau, tak ada satupun sms ataupun telfon dari dia, kekasihku. Sudah satu bulan hubunganku mengambang dengannya, aku terus berusaha, tapi dia tak mau mengerti. Dia tetap keras kepala. Setiap hari aku menangis melihat tingkahnya yang tidak mau pedulikan perasaanku.
Suatu saat, aku bertemu dengan teman lamaku. Dennis namanya. Ia sudah banyak berubah. Ia satu tahun lebih tua dariku, maka kupanggil dia ‘kaka’ dan dia memanggilku ‘adik’. Kita menjalin hubungan pertemanan lagi dan kami sangat akrab sekali. Kita selalu saling membantu, saat aku bersedih karena masalah kekasihku yang acuh, dia selalu menemaniku. Begitu pula sebaliknya, sehingga kami merasa senang dan nyaman. Ia juga cerita tentang kekasihnya, turut bahagia aku mendengarnya karena hubungan mereka baik-baik saja.
Suatu saat aku bercerita kepada Dennis.
“Ka, Dia selalu mengacuhkanku. Bahkan sekalinya berbicara, dia berkata kasar padaku!” ucapku.
“De, kaka cuma mau ngasih tau aja, lebih baik cowok kaya gitu ditinggalkan saja. Nanti dede yang bakal cape sendiri.” Jawab Denis.
“Tapi ka, aku sayang dia.”Lanjut ceritaku.
“Untuk apa kamu sayang sama seseorang yang ga sayang sama kamu?” Ucap Dennis.
Setelah percakapan itu, benar juga apa yang dikatakan Dennis, buat apa aku sakit hati terus? untuk dia yang tidak pernah memperhatikanku? lebih baik aku tinggalkan saja. Tidak lama setelah itu, aku putus dengan kekasihku dan aku berusaha untuk melupakannya jauh-jauh. Sekarang aku hanya ingin mencari sahabat, dan kupikir Dennislah sahabat yang terbaik karena dia selalu ada saat aku kesulitan. Tapi kedekatanku dengan Dennis, menimbulkan kecemburuan Winda, kekasih Dennis. Mereka selalu bertengkar, tapi Dennis selalu mengalah dan aku selalu dibawa-bawa dalam setiap pertengkaran mereka.
Suatu ketika, dia tiba-tiba menghubungiku dan berkata,
“De, mulai sekarang kila lost contact dulu ya?” kata Dennis.
“Memangnya kenapa ka?” aku bingung mendengar perkataan Dennis yang tiba-tiba berbicara aneh.
“Tadi Winda marah-marah sama kakak. Udah mulai sekarang kita lost contact saja. Maaf ya de?” Kata Dennis.
“Ya.” Aku hanya membalas singkat perkataannya karena aku sangat kesal, dan kecewa sekali padanya. Ternyata dia rela meninggalkan sahabatnya hanya untuk mempertahankan hubungannya dengan kekasihnya. Lalu dia mendatangiku lagi,
“De, sekali lagi maaf ya?” ujar Dennis.
“Ya, terserah kakak saja.” ucapku sambil berkaca-kaca.
“Sudahlah jangan sedih, akan ada banyak pengganti kakak yang mau nemenin ade.”
“Ngomong itu mudah ka, tapi tetap saja aku sedih dan kecewa sama kakak !!.”
“Terus gimana lagi dong de?”
“Ya sudahlah jalani saja hidup kakak sama Winda!!”
“Maaf ya de, cepet dapet pacar yang baik ya de, biar bisa ngelindungin ade. Good bye, see you later.” Ucapan terakhir Dennis yang masih terngiang di telingaku.
“Ya sudahlah sana jangan kebanyakan minta maaf, katanya mau lost contact?!”. ucapku.
Baru aku menyadari rasanya ditinggal sahabat demi orang lain, lebih menyakitkan daripada putus dengan pacar sendiri. Kini aku lebih mengerti kedudukan sahabat labih jauh berguna dari pada kekasih. Sahabt bisa jadi kekasih, tapi kekasih tidak bisa jadi sahabat.

Dikutip dari cerpen ‘Seorang Remaja’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: