7 Cara Syaitan Menyesatkan Umat Manusia

>
Oleh: Abu Royhan Al- Firdausy

Allah berfirman dala Al- Qur’an:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Aku jadikan bagi setiap Nabi itu (pasti) ada musuhnya berupa Setan manusia dan Jin. Mereka saling memberi inspirasi sebagian kepada sebahagiannya dengan reka- reka rayuan yang mengandung tipu daya” (Q.S.Al- An’am 112).

Imam Ghozali dalam salah satu kitabnya berjudul “Minhaajul Aabidiin” yang telah di syarahkan oleh Syekh Ikhsan Al- Jampesy dengan judul ‘Siroojut Thoolibin”, pada juz awal/312 mengungkapkan tentang adanya 7 (tujuh) jurus maut Setan bin Iblis laknatullaoh dalam menggoda anak manusia tanpa kecuali bahkan juga para cerdik pandai dan para ulamanya tak lepas dari rayuan gombal dan serangan jurus maut mereka sehingga banyak diantara mereka terlena dan tergelincir terkena godaannya.

7 jurus itu dilancarkan Setan susul menyusul tanpa henti dan bergelombang secara simultan bak air bah menggempur benteng pertahanan hati manusia, dan siapapun yang lengah akan jebol pertahanannya, tak peduli dia seorang santri atau kiyai, terkecuali orang- orang yang berlindung dan mendapat perlindungan Sang Maha Perkasa, Allah SWT.

Oleh karena bahaya dan licik serta halusnya rayuan dan godaan itu, sangat perlu bagi kita untuk memahami dan meng- identifikasi cara- cara mereka agar kita waspada bila serangan itu datang seraya memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Pada kesempatan ini penulis insya Allah akan menuturkannya dengan gaya bebas namun tetap bersumber dan mengacu pada kitab- kitab tersebut diatas.

1. Bentuk jurus pertama: Apa untungnya ber- ibadah?

Setan akan membisiki jiwa manusia agar ia tak perlu bersusah payah berbakti dan ber- ibadah kepada Allah. Bukankah banyak orang yang tak ber- ibadah pun dapat hidup senang dengan kekayaan melimpah, sebaliknya banyak para ahli ibadah namun hidup mereka tetap saja susah?

Maka banyaklah manusia goyah imannya mendapat serangan seperti ini, kecuali orang- orang yang telah mendapatkan hidayah Allah, ia akan menjawab dalam hati demikian::

“Memang, ibadah itu bukan untuk tujuan duniawi. Ibadah itu adalah sarana untuk meraih ridho Allah dan kebaikan diakherat, bukan untuk meraih hasil- hasil keuntungan materi didunia ini.. Sebagai makhluq yang telah diberikan hidup dengan segala kelengkapannya, sudah sepatutnya berterimakasih dan bersyukur kepada yang telah memberikan kehidupan bagi kita dengan cara ber- ibadah. Bukankah Allah sudah memberikan cara bagaimana untuk meraih kebahagian duniawi dengan kerja keras, ulet dan pantang menyerah?. Nah untuk kebaikan akherat dan ridho Allah, kita lakukanlah amaliyah ibadah”.

Maka setan pun mengkeret (Al- Khonnaas) untuk mempersiapkan jurus keduanya yang lebih hebat.

2. Bentuk jurus kedua: Menunda aktivitas.

Setelah mundur sejenak, Setanpun segera menggebrak dengan jurus kedua, Setan berkata: “Seandainya harus ber- ibadah, masih ada banyak waktu untuk itu. Saat ini anda masih punya banyak waktu untuk bersantai. Anda masih muda, masih remaja. Manjakanlah badan ini barang sejenak, soal ibadah… bisa dilakukan nanti, dilain waktu, dilain kesempatan, atau nanti setelah tua…”.

Maka banyak nian anak manusia punya keinginan untuk beribadah, namun hanya sekedar keinginan. Dia pikir waktu itu berhenti, padahal waktu terus berjalan dengan amat cepatnya, sehingga tiba- tiba ia sakit, ada halangan atau ajalpun menjemput sebelum sempat berbuat apa- apa…

Namun seorang yang mendapatkan tuntunan ilahy akan segera menyanggah rayuan gombal ini dan dengan tegas ia menjawab: “ Umurku tidak berada ditanganku. Siapa yang tahu dan dapat menjamin bahwa esok aku masih dapat menghirup udara kehidupan? Maka bila aku tunda ibadahku hari ini siapa yang dapat menjamin bahwa aku bisa melakukannya esok hari? Bukankah tiap saat dan tiap waktu dapat bernilai ibadah? Jika aku tunda aktivitas ibadahku hari ini maka berarti aku akan rugi hari ini karena besok ada nilai ibadah tersendiri yang telah disediakan Allah kepada para hambanya yang ingin meraihnya”.

Setanpun undur selangkah untuk maju ke jurus ketiga.

3. Jurus ketiga: Lakukan aktivitas secepatnya tanpa perlu tahu ilmunya!

“Oh begitu”. Kata Iblis. “Kalian menginginkan beribadah sekarang, O.K!. Silahkan, silahkan… ayo kerjakan secepatnya, tanpa perlu tahu kaifiyat dan tata caranya yang benar. Lakukan saja sebanyak- banyak nya. Soal ilmu dan kaifiyatnya, itu soal nanti…”

Maka banyaklah manusia ber- ibadah ngawur. Sholat saja qiblatnya tidak ke Mekah tetapi ke Argentina, ke Menhester united, ke Italy. Tatkala diberitahu bahwa kiblatnya salah, mereka marah- marah, katanya Allah tidak akan mempersulit kita…Memang, agama itu mudah, namun jangan dipermudah.

Sholat Tarowaih saja ngebut, thuma’ninahnya ditinggal, asal sujudnya banyak, tapi asal- asalan.

Sewaktu membaca Al- Qur’an pun, bacaannya tidak tartil, padahal Nabi saja ditegur agar bacaannya mengikuti bacaan Jibril yang tartil. Bila di anjurkan agar belajar mereka menjawab bahwa Allah tidak mempersulit hambanya untuk beribadah kepadanya.

Kecuali hamba- hamba Allah yang mendapat Taufiq Nya ia akan berkata: “ Bukankah Rasulullah pernah bersabda bawa: Qoliilu ‘Amal ma’at Tamaam, khoirun min katsiirihii ma’an Nuqshoon?”

Amal ibadah yang sedikit namun sempurna adalah lebih baik daripada banyak amal dengan banyak kekurangan?” Capek rasanya kalau kita bekerja namun imbalannya tak seberapa apalagi bila ternyata hanya menyebabkan murka Nya?”

4. Jurus keempat: Memamerkan kehebatan amaliyahnya.

Pada langkah keempat setanpun merasuki jiwa manusia BER- ILMU YANG SEDANG MELAKUKAN IBADAH itu, dan membisiki jiwa mereka dengan pujian: “ Lihat, lihat semua orang memperhatikan kalian… kalian sungguh hebat dan ber- ilmu dalam beribadah. Tunjukkan kepada mereka ibadah kalian itu….”.

Orang- orang yang tergelincir terkena godaan setan segera timbul RIYA’ nya. Buktinya sewaktu sholat dirumah dia ngebut bahkan tanpa dzikir ba’da sholat, namun saat sholat di mesjid sangat kelihatan khusyu’nya dan dzikirnya pun sangat panjang dan keras agar didengar orang. Padahal khusyu’ dan dzikirnya itu sekedar pamer, agar ia dipuji sebagai orang yang khusyu’ dalam sholat……

Namun manusia manusia yang beruntung akan menolaknya dengan mengatakan: “ Penglihatan Allah sudah cukup bagiku, karena Dia lah yang akan membayarkan pahala Nya kepadaku, bukan yang lain. Manusia adalah makhluk tak berdaya, aku tak butuh penghargaan mereka…”

Iblispun satu langkah mundur dan maju kembali dengan serangan berikutnya.

5. Jurus kelima: Merasa dirinya hebat dan paling pantas masuk sorga.

Dengan berbisik Iblis berkata kedalam hati si Abid: “ Kau memang hebat… Kamu memang ahli ibadah terbaik di negeri ini, ikhlas pula. Ya..ya.. kaulah yang terbaik dinegeri ini, yang paling ikhlas dan paling alim, yang paling pantas masuk sorga. Yang lain tak setara dengan kamu…”

Maka muncullah orang- orang yang UJUB, yang merasa dirinya paling hebat, paling alim, paling benar, paling suci, paling unggul dibanding orang lain, paling cocok masuk sorga….Iapun tak segan untuk mengecilkan dan merendahkan bahkan menghina orang lain. Dalam bahasa psychology mereka disebut mengalami MEGALOMANIA complex, suatu penyakit jiwa yang pernah dialami oleh Fir’aun, Namrudz, Hitler, Mussolini dan lainnya.

Pada tahapan ini mulai banyak para ustadz, guru ngaji, ulama dan kiyai terjebak dalam rayuan setan berupa ibadah RIYA’ dan UJUB tanpa terasa, bahkan ia masuk kedalam lumpur jebakan yang lebih dalam yaitu HASUD dan DENGKI. Tatkala ia melihat guru ngaji lain lebih berhasil, kiyai lain lebih banyak muridnya dan melihat ulama’ lain lebih sukses mengelola pesantrennya, alih- alih bersyukur dan ikut merasa senang atas sukses teman- temannya yang berarti juga suksesnya da’wah Islam, karena bujukan dan rayuan Setan ia menjadi penghasut, penfitnah bahkan penghujat paling aktif bagi teman- teman seprofesinya itu… Na’uudzu billaahi mindzaalik.

Kecuali orang- orang yang mendapat perlindungan Allah, dia akan sanggup menolaknya dan berkata: “ Innanii Hadaanii Robbii ilaa Shiroothim Mustaqiim….Cukuplah Allah yang menggerakkan hatiku dan membalas amalku. Dia pula yang menyebabkan aku tergerak hati untuk melangkahkan kaki beribadah. Tanpa petunjuk Nya mana mungkin aku bisa melakukan segala kebaikan in? Maka apakah hebatnya aku, karena aku hanyalah digerakkan oleh kekuatan Nya, karena tiada daya melakukan perbuatan baik dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi keburukan kecuali hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil adhiimi”.

Setelah Setan gagal dengan siasat kelima, segera mereka menyerbu dengan siasat dan jurus ke- enam yang lebih dahsyat.

6. Jurus ke- enam: Seorang wali tak perlu lagi ber- ibadah!

Siasat ini sudah begitu banyak menelan korban dan menggelincirkan para ulama besar. Mereka tanpa sadar termakan oleh tipu daya Setan ini. Setan berbisik: “ ooo…kamu seorang ahli ibadah yang ber-ilmu. Kini anda telah sampai ketingkat ikhlas dalam ber- ibadah. Riya’ dan ujub sudah berhasil kau jauhi, maka kini engkau telah begitu dekat dengan tuhanmu. Engkau kini seorang MUQORROBIIN, seorang AULIA’ ALLAAH, seseorang yang pasti dicintai Allah. Maka kini engkau telah memasuki tahapan dan DUNIA WALI yang tak perlu lagi bersentuhan dengan amaliyah- amaliyah lahir. Engkau kini bagai samudera yang dapat menyerap segala kotoran dari sungai sekotor apapun. Maka kini maksiyat tak akan mempengaruhi samudera kebersihan hatimu. Hukum syari’at itu hanya berlaku bagi orang AWAM, bukan untuk orang KHOS seperti kamu, hukum syari’at sudah tidak diperlukan lagi untuk orang sederajat kamu karena tujuan syari’at adalah agar manusia MENGINGAT TUHAN, dan kau kini sudah selalu mengingatnya, jadi buat apa syari’at bagimu?……”.

Pada tahapan ini banyaklah para orang pinter yang akhirnya menjadi KEBLINGER. Para MALAMATIYAH PALSU yang sesat menyesatkan, yang akhirnya memisahkan antara SYARI’AT- THORIQOT dan HAQIQOT, yang seharusnya seiring sejalan, berjalin dan berkelindan yang merupakan sebuah kesatuan tak terpisahkan, sebagai perwujudan dan pengejawantahan Iman, Islam dan Ikhsan.

Namun orang- orang yang mendapatkan petunjuk Allah dapat selamat dari jurus berbahaya ini dan mampu menjawab demikian: “ Bukankah Nabi Muhammad adalah makhluq terkasih dari Allah, namun beliau sholat malam sampai lebam- lebam kakinya? Bukankah para sahabat Nabi adalah manusia- manusia terbaik didikan baginda Rasulullah, namun mereka juga berjuang menegakkan dan menjalankan syari’at dengan mempertaruhkan harta bahkan jiwa dan raganya? Bukankah Allah telah berfirman: “ Sesungguhnya para Wali Allah itu mereka tak pernah merasa takut dan khawatir. Yakni mereka orang- orang ber IMAN dan mereka semuanya ber TAQWA. (Q.S.Yunus 62- 63). Maka apalah aku ini jika disbanding dengan mereka sejatinya para wali- wali Allah itu?”

Maka Setanpun surut sejenak untuk kemudian maju dengan jurus maut andalannya.

7. Jurus ke 7: Serahkan pada takdir, tak ada gunanya ber- ikhtiyar.

Kata Setan: “ Kau adalah orang ber- ilmu, pasti tahu sabda Nabi tentang TAKDIR. Betapapun kau rajin ber- ibadah sehingga jarakmu dengan sorga tinggal sejengkal, kalau takdirmu keneraka maka tetaplah kamu akan masuk neraka. Sebaliknya jika kau bermaksiyat sampai jarakmu dengan neraka tinggal sejengkal, namun bila takdirmu kesorga, pastilah kau akan masuk kesorga. Bukan begitu? Jadi buat apa kalian ber capek- capek beribadah kepada Allah?”.

Orang yang mendapat taufik dari Allah akan berkata untuk menjawab rayuan gombal Setan tersebut: “Takdir itu adalah URUSAN ALLAH dan hak PREROGRATIF Allah semata, bukan urusan makhluk seperti aku ini. Tugasku sebagai seorang hamba yang baik adalah BER- IKHTIYAR dan melakukan usaha dengan sungguh- sungguh. Lagipula aku ingin mendapat RIDHO Rob ku yang menciptakan aku. Maka seandainya aku harus masuk neraka dalam keadaan aku berbakti kepada Nya, itu lebih aku sukai dari aku harus masuk kedalamnya dalam keadaan mendurhakai Tuhanku….”.

Semoga kita selalu dapat menangkis serangan dan rayuan Setan laknat, tentunya hanya dengan pertolongan Allah, Sang Pencipta alam semesta dan Pencipta Malaikat, Iblis, Setan, dan Pencipta kita semua. Alloohumma Inni A’uudzubika Min Hamazaatis Syayaathiin Wa a’uudzubika Robbii an yahdhuruun. Amiiin.

About these ads
Ditulis dalam 1. Leave a Comment »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: