Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)

Ghazwul Fikri secara bahasa berarti perang pemikiran, secara lebih khusus bisa diartikan sebagai serbuan pemikiran, sebab ghazwul fikri lebih merupakan serangan sepihak. Dengan ghazwul fikri seorang muslim tidak perlu keluar dari agamanya, tapi mengikuti pandangan dan prinsip hidup yang jauh dari nilai-nilai Islam. Pada akhirnya tujuan akhir ghazwul fikri adalah melenyapkan Islam sampai ke akar-akarnya. Demikian yang disampaikan oleh KH. Cholil Ridwan dalam seminar “Menyiapkan Mental Menghadapi Ghazwul Fikri” di SMA Pesantren Unggul Al-Bayan.

Acara yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 21 Februari 2009, pukul 10.00 – 12.00 WIB ini difasilitasi oleh OSIS SMA PU Al-Bayan dengan tujuan untuk membekali generasi muda dari serbuan pemikiran yang demikian gencar dilakukan oleh musuh-musuh Islam.

KH. Cholil Ridwan merupakan sosok yang sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslimin. Beliau memegang beberapa jabatan strategis yang berkaitan dengan kepentingan umat, diantaranya sebagai Ketua MUI Pusat, Ketua Dewan Dakwah Pusat, dan Wakil Ketua BKSPPI (Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia). Nama beliau sering muncul di media massa sebagai penentang pemikiran-pemikiran dan aliran-aliran yang menyimpang, seperti Ahmadiyah, JIL, Lia Eden, dll.

Menurut beliau, peperangan antara kebenaran dan kebatilan merupakan peperangan yang purba, sudah berlangsung ketika jumlah manusia masih sedikit, yaitu ketika terjadi konflik antara Qobil dan Habil. Perang ini terus berlangsung sampai sekarang.

Ghazwul fikri hadir untuk mengaburkan nilai-nilai kebenaran, baik dengan menebarkan keragu-raguan maupun dengan menebarkan kesesatan. Metode ini bisa hadir dalam berbagai bentuk, diantaranya dalam bentuk invasi budaya, seperti dansa-dansi antara laki-laki dan perempuan, penggantian papan nama berbahasa arab dengan bahasa inggris pada pesantren-pesantren dan penggantian kalender hijriyah dengan kalender masehi oleh penjajah Belanda. Yang tak kalah dahsyatnya adalah penyebaran paham sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme yang disebarkan oleh kelompok yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal.

Beberapa langkah yang sudah ditempuh dalam ghazwul fikri ini diantaranya:

  1. Menyebut seorang muslim yang menjalankan agamanya (muslim kaffah) dengan sebutan fundamentalis. Fundamentalis identik dengan anarkis. Anarkis identik dengan teroris, sehingga pada akhirnya seorang muslim kaffah sama dengan teroris.
  2. Mushaf Utsmani bukanlah Al-Qur’an yang otentik, tapi hasil rekayasa khalifah Utsman bin Affan untuk mendukung kepentingan politiknya.
  3. Hukum Islam adalah produk budaya arab dan tidak sesuai diterapkan dalam konsteks masyarakat hari ini. Seperti misalnya hukum tentang jilbab yang lebih merupakan budaya arab.
  4. Menghalalkan nikah beda agama.

Dalam menangkal ghazwul fikri ini KH Cholil Ridwan menyarankan kepada generasi muda untuk berdoa dengan khusyu kepada Allah agar selalu ditunjukkan oleh-Nya kepada jalan yang lurus. Selain itu perlu juga untuk mengenal pemikiran-pemikiran yang menyimpang beserta tokoh-tokoh yang mendukung dan menyebarkannya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: